Ternyata sepupu saya udah punya ini dari lama. Aaah, surga dunia #suikoden #shinsuikoden #samkok #threekingdoms

Ternyata sepupu saya udah punya ini dari lama. Aaah, surga dunia #suikoden #shinsuikoden #samkok #threekingdoms

Politik vs Karya (2)

Lagi-lagi saya berkesempatan untuk berdiskusi dengan seorang kawan yang kita sebut saja Mas J. Masih dengan tema serupa, yaitu menyoal politik dan karya. Perbincangan ringan ini tak sengaja jadi topik yang menyeruak di permukaan. Soal politik jadi suatu bahasan yang bahkan tukang becak sekalipun sedikit sudah mulai paham, apalagi setelah beberapa waktu kebelakangan bisa kita lihat secara live sidang anggota parlemen — yang menurut saya justru seperti sebuah lawakan cangehgar :)). Mirip-mirip kongres di kampus di mana anggotanya adalah para anak muda masih memiliki ego yang tinggi. Seharusnya mereka yang sudah lebih dewasa dan dituakan itu bisa lebih bijaksana dan arif dalam bertindak.

"1 scientist is better than 10 politicians."

Saya yakin setiap profesi itu sama derajatnya, setidaknya seharusnya seperti itu. Mereka yang duduk di parlemen sama derajatnya dengan para petani di sawah. Pun seorang guru, nelayan, dan berbagai profesi lainnya. Setiap profesi itu sama derajatnya. Mereka yang duduk di parlemen mengurusi pemerintahan dan poltik itu tentu sama sama dengan kita. Hanya saja kebanyakan orang —entah karena streotype— seakan mengagung-agungkan jabatan parlemen. Seakan di sana adalah sebuah turnamen perebutan kekuasaan, bukan berlomba-lomba untuk kemashlahatan rakyatnya.

Para elit politik tersebut adalah orang-orang yang seharusnya kita percaya sebagai pembuat berbagai macam kebijakan. Semoga memang benar-benar bersifat ‘bijak’. Sayangnya apa yang kita lihat belakangan di media seolah menyudutkan posisi para ‘pembuat kebijakan tersebut’. Kesannya kekanak-kanakan memang. Semuanya ingin bicara, semuanya ingin didengar. Lantas siapa yang akan mendengar keluh kesah rakyatnya. Kepada siapakah mereka berpihak? Kepentingan partai atau rakyat?

Sempat tercetus pemikiran bahwa mereka yang ada di posisi elit politik itu penuh dengan kepura-puraan. Mereka teriak lantang menyuarakan  A, apakah benar-benar untuk kepentingan rakyat atau sekedar memainkan ‘peran’ politisnya. Entahlah, perkara niat biarlah Tuhan yang nilai, kita sebagai manusia hanya bisa menilai perilakunya yang muncul.

Banyak kebijakan yang diambil dan disahkan di ranah politik. Baik itu soal harga bawang, BBM, pendidikan, dan sebagainya. Hampir semuanya. Lantas apakah kita sudah benar-benar 100% percaya pada para elit politik yang sering berkoar-koar mencari sensasi itu untuk mengambil keputusan secara bijaksana? Hmm.

Kalau kita tarik lagi lebih dalam, ada siapa di balik politisi yang mengambil keputusan tertentu itu? Yang kita lihat di permukaan memang wajah-wajah poltikus itu, namun tentunya di balik mereka ada banyak para staff ahli yang menentukan keputusan apa yang bakal diambil oleh sang politisi. 

Misal soal kenaikan harga BBM, tentu para pakar ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang melakukan riset. Soal pendidikan, tentu orang-orang yang mahir di bidang pendidikan yang melakukan riset. Begitu seterusnya. Ujung tombaknya sesungguhnya ada dari para staff ahli ini. Yang melakukan berbagai macam kajian dan riset sebelum si politisi menyuarakan akan bersuara X, Y, atau Z.

Karenanya jangan pernah beranggapan menjadi politisi adalah segalanya. Di balik mereka tentu ada orang-orang yang ahli dan profesional di bidangnya yang melakukan berbagai kajian. Merekalah sesungguhnya ‘otak’ dari berbagai keputusan yang diambil oleh para politisi. Lantas politisi itu bagaimana? Mungkin saja asumsinya mereka sedang bermain ‘peran’ di panggung sandiwara pemerintahan. Mungkin bagi sebagiannya. Semoga tidak seluruhnya.

Sekarang saya mulai paham, mengapa penting bagi kita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Jadilah orang yang cerdas dan ahli di bidangnya. Semakin kredibel kita tentu semakin dicari untuk memecahkan solusi bangsa. Semakin didengar pula pendapat kita. Semakin besar juga peluang kita untuk membenahi bangsa dengan kapabilitasnya masing-masing.

Jangan berhenti berkarya! :)

***

Tulisan pertama tentang Politik vs Karya bisa dilihat di sini

herlindaperikanan16:

Bagi yang merasa pernah naik biang lala dan kora-kora 2 tahun yang lalu, inilah para pelopornya.. bersama staff2nya yang luar biasa hebat dan menakjubkan kita ciptakan malam penuh kenangan di tanah bersejarah itu
Happy Closing Ceremony Forsi 2012 We are Inspired – View on Path.

Kangen. Forsi 2012 pelopor Forsi berikutnya. Selamat selamat :))

herlindaperikanan16:

Bagi yang merasa pernah naik biang lala dan kora-kora 2 tahun yang lalu, inilah para pelopornya.. bersama staff2nya yang luar biasa hebat dan menakjubkan kita ciptakan malam penuh kenangan di tanah bersejarah itu

Happy Closing Ceremony Forsi 2012 We are Inspired – View on Path.

Kangen. Forsi 2012 pelopor Forsi berikutnya. Selamat selamat :))

jojje94:

heartlessmushroom:

blackrosekz13whovian:

apsarcasm:

sherlocksmyth:

Deflate when writing prose; inflate when writing essays for school.


Procrastinating on finding ways to add one page to my essay to get the page requirement! Thank you so much.

Thanks man

I’m not in school anymore, but here.

jojje94:

heartlessmushroom:

blackrosekz13whovian:

apsarcasm:

sherlocksmyth:

Deflate when writing prose; inflate when writing essays for school.

Procrastinating on finding ways to add one page to my essay to get the page requirement! Thank you so much.

Thanks man

I’m not in school anymore, but here.

(Source: amandaonwriting)

Kita bermula sebagai seorang teman dan akan tetap berteman sampai kapanpun. Semoga.

—kata seorang teman

Membunuh Faraday

muhammadakhyar:

Hidup yang tenang adalah hidup dengan kepercayaan bahwa dunia berjalan dengan baik. Berputar sebagaimana mestinya. Kita menyerap dengan sungguh-sungguh ajaran yang disampaikan orang tua dan guru sewaktu kecil dahulu: rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, malas pangkal bodoh, boros pangkal miskin. Begitulah kita dibesarkan. Kita tumbuh berkembang dalam iklim pengasuhan yang percaya bahwa semua orang mendapatkan apa yang pantas untuk mereka. Pendek kata, hidup yang adil memang benar-benar berlangsung di sekitar kita.

Kepercayaan kita bahwa tiap orang mendapatkan apa yang ia usahakan tentu saja membantu kita keluar dari hidup yang serba tidak pasti. Dalam pandangan kita, ikhtiar yang cerdas dan semangat yang sungguh-sungguh pastilah jalan yang tepat untuk mencapai titik tujuan.  Hanya saja, di sinilah pokok masalahnya. Dalam pikiran seperti ini, realitas kita lihat hanya selapis. Kausalitas yang kita bangun hanyalah terkait kualitas seorang manusia dan hasil yang ia dapatkan. Orang baik akan mendapatkan yang baik, yang buruk akan mendapatkan yang buruk, selesai perkara. Dalam benak kita, dunia yang sedang kita jalani ini tak ada infrastruktur ataupun suprastruktur.

Asumsi sebab-akibat satu lapis ini selain mempertahankan rasa aman karena adanya kepastian, tanpa kita sadari juga membawa kita ke arah yang agak mengkhawatirkan. Kita jadi begitu mudah mengeluarkan semacam tuduhan untuk manusia yang menjadi korban nasib sebagai jenis manusia yang lemah lagi cengeng, tak punya gairah hidup, gagal bersaing dalam iklim kompetitif dewasa ini. Dalam pandangan kita, orang-orang yang mendapatkan jalan hidup yang buruk, tak lain tak bukan disebabkan oleh mereka sendiri. Tak ada waktu untuk penjelasan yang lain-lain. Tambahan penjelasan hanya akan kita anggap usaha untuk tidak mengakui kesalahan diri sebagai sebab dari hidup yang buruk tadi. Justifikasi.

Suatu hari bertahun-tahun yang lalu, saya menangis tersedu-sedu. Bukan karena ayah saya tak membelikan sepeda motor model terbaru. Bukan pula karena ibu melarang untuk mulai mendekati perempuan yang saya sukai. Hari itu saya gemetar, hidup yang adil, yang semula tertancap kuat di benak saya, perlahan keluar.

Ini tentang salah seorang sahabat terdekat saya. Kami saat itu, semacam duet anak kampung yang sudah saling mengerti satu sama lain. Saat sedang bermain bola di kampung sana, jika saya sayap kanan, ia pasti beroperasi di kiri. Jika saya mengirim umpan silang, pastilah kepalanya yang saya tuju. Jika mengirim umpan daerah, area kosong di depan saya berlarilah, bola ia arahkan. Saat musim hujan tiba, lapangan bola becek, orang-orang kampung mulai menebang pinang. Memotongnya di sana-sini. Jadilah dua tiang net yang berdiri kokoh di lapangan pasir dadakan. Setiap sore selalu saja ada, pertandingan diadakan di sana. Jika bukan bulu tangkis, pasti sepak takraw. Di dunia cabang inipun saya dan sahabat saya tadi selalu turut serta. Jika bermain bulu tangkis, kami selalu akan bermain ganda. Saya sebagai pemain bertipe menyerang, ia yang bertahan. Lain lagi jika sore itu kami bertanding sepak takraw, biasanya saya yang menjadi tekong, dan ia yang menjadi apit kanan, yang lebih banyak melancarkan serangan mematikan.

Hanya saja, keunggulan sejati dari sahabat saya tadi bukanlah di dunia olah raga. Ia termasyhur sekampung raya karena tangannya yang begitu lihai dalam perkara seni. Berikan ia sabun mandi dan pisau, ia akan ubah itu menjadi benda cantik sekaligus wangi hanya dalam beberapa menit. Berikan padanya kepala anda, sisir dan gunting. Apapun potongan rambut yang anda inginkan akan anda miliki dengan bentukan yang lebih baik dari bayangan di pikiran anda sebelumnya. Berikan padanya selembar karton putih, palet, kuas, dan cat air, anda akan melihat lukisan pantai yang bisa menimbulkan rasa haru. Saya masih ingat, lukisan pantainya ini merupakan salah satu lukisan terbaik se-Sumatera Utara di kompetisi seni tingkat sekolah dasar. Itulah tangan sahabat saya, seniman sejati, betuah.

Hidup yang manis berhenti ketika ia harus memutuskan tak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia harus memilih, ia atau adik perempuannya yang melanjutkan sekolah. Semua uang tabungan dan beberapa petak tanah sudah lepas dari orang tuanya untuk pilihan ini. Tak ada opsi lain. Teman saya memilih pemberhentiannya. Saya memilih untuk gemetaran sendirian, merenung-renungkan hidup, menimbang-nimbang tentang keadilan.

Lalu beberapa tahun kemudian, saya lagi-lagi sesenggukan. Perkaranya sungguh sentimentil. Hari itu Sekolah Bermain Matahari, sekolah pre-school Sabtu-Minggu gratis yang didirikan untuk mengisi kebutuhan anak-anak di bantaran sungai Ciliwung sekitaran jalan Kapuk, sedang kedatangan tamu-tamu. Mereka adalah para dokter gigi muda lengkap dengan jas putihnya yang menawan. Sesi itupun datang. Pertanyaan itu pun akhirnya dihamburkan, “siapa yang besarnya mau jadi dokter?” Beberapa mengacung tangan dan maju ke depan. Adik-adik kecil tadi pun diminta mencoba menggunakan jas-jas putih itu. Saya gemetar. Akankah mereka akan benar-benar dapat menggunakan jas putih nan gagah itu kelak.

Adakah hidup yang adil untuk mereka. 

Dalem..

  • A: Hal apa yang tak pernah habis?
  • B: Cinta dari Sang Pencipta
"Aku terbang!"

"Aku terbang!"

Ada empat macam manusia. Pertama, orang yang tahu dan tahu bahwa dia tahu. Orang seperti ini disebut alim (berpengetahuan), maka ikutilah. Kedua, orang yang tahu dan tidak tahu bahwa dia tahu. Orang seperti ini sedang tidur, maka bangunkanlah. Ketiga, orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu. Orang seperti ini adalah orang yang minta petunjuk, maka tunjukilah. Keempat, orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang seperti ini disebut bodoh, maka cegahlah.

Al-Khalil bin Ahmad (via kuntawiaji)